BAMBANG EKALAYA


Ketika masih remaja, Pandawa dan Korawa didik oleh seorang Brahmana yang sakti dan terkenal dengan ajian Danurwedanya yaitu Resi Drona. Seorang Brahmana mulia dan guru utama bagi putra raja Hastinapura. Resi Drona mengajarkan berbagai ilmu kepada para siswa sesuai dengan bakat dan kemampuannya.Suatu ketika para siswa di ajar untuk memanah. Maka digantunglah

sebuah apel dengan seutas tali di dahan pohon mangga. Satu per satu para siswa diminta untuk memanah apel tersebut. Duryudana tampil terlebih dahulu dengan gendewa di tangan dan langsung menarik busur dan membidik anak panah ke arah apel tersebut.

Lalu Rsi Drona bertanya kepada Duryudana, “Ananda … apakah yang kamu lihat saat kamu membidik ?”.

Sambil tetap membidikkan anak panah, Duryuduna menjawa, “Guru, saya melihat apel yang di gantung tali, dan di atas pohon juga aku lihat seekor burung kecil yang tengah berkicau”. Lalu dilepasnya anak panah, yang ternyata melenceng sangat jauh dari sasaran. “Huuuuu … “, Pandawa dan Korawa bersorak mencemooh Sang Duryudana. Lalu berikutnya Bima juga maju dan ditanya hal yang sama. Bima menjawab, “Hamba melihat apel, batang dan daun yang berjatuhan tertiup angin”. Panah melesat, sayang tidak mengenai apel, melainkan tertancap kuat di ranting pohon duren itu. “Weeehhhh ….”, teriak para korawa sambil mengejek Bima yang merah padam mukanya karena malu. Tidak satupun dari para siswa yang mampu mengenai buah apel itu. Sehingga tiba saatnya Arjuna maju dengan gendewanya yang indah.

Bambang-EkalayaPertanyaan yang sama diajukan oleh Sang Resi Drona, Mahaguru Utama, “Anakku Arjuna, apakah yang engkau lihat saat membidik ?”. Arjuna dengan tegas menjawab, “Aku melihat apel merah”. Kembali Drona menegaskan pertanyaannya “Apa lagi yang kaulihat selain apel itu anakku ?”. Sambil memicingkan mata Arjuna kembali menjawab, “Saya hanya melihat apel merah, guru”. Lalu Drona segera berkata, “Lepaslah sekarang anak panahmu muridku … engkau akan berhasil !”. Lalu melesat secepat kilat anak panah dari gendewa nan indah, meluncur cepat mengarah ke apel merah yang tergantung sangat jauh dari tempat Arjuna berdiri.

Dan … Cep … panah tersebut persis menancap dan menembus bagian tengah apel merah yang tergantung itu. Segera teriakan bangga lima bersaudara Pandawa menggema … diiringi dengan gerutu para Korawa yang berjumlah seratus itu, menggumam bagai suara tawon yang sedang diusik sarangnya.

Lalu dengan lantang Sang Drona berkata, “Anak-anakku, petiklah pelajaran dari pengalaman ini, renungkanlah bahwa konsentrasi terhadap sasaran adalah hal utama dalam keberhasilan memanah”.

Bambang-Ekalaya-KulitSelain Pandawa dan Korawa, rupanya dari kejauhan ada seorang anak sebaya yang mengintip dari semak-semak. Dia memperhatikan dengan kagum gerak-gerik dan ucapan Resi Drona saat mengajar. Anak ini adalah Bambang Ekalaya seorang pangeran dari negeri seberang. Bambang Ekalaya pernah datang menghadap Resi Drona dan memohon dengan amat sangat agar dapat kiranya dijadikan murid. Akan tetapi permohonan itu di tolak oleh Resi Drona dengan lembut, karena Beliau telah berjanji hanya akan mengajar para Ksatriya putra-putri kerajaan Hastina. Maka disarankan agar Bambang Ekalaya mencari guru yang lebih baik dari diri nya, beserta doa restu agar dia berhasil meraih cita-citanya.

Namun Bambang Ekalaya bertekad untuk tetap mengangkat Resi Drona sebagai gurunya. Sehingga dibuatlah patung di tengah Hutan yang sangat menyerupai Resi Drona. Setiap pagi sebelum berlatih, dia bersembahyang didepan patung Sang Resi, untuk memohon restu agar dia dilimpahkan ilmu memanah yang sakti. Alkisah, setelah berbulan-bulan, Bambang Ekalaya menjadi sangat sakti, bahkan lebih sakti dari para ksatria Pandawa dan Korawa yang didik langsung oleh Resi Drona.

Hal ini terbukti ketika ada pertandingan memanah, dan ternyata Bambang Ekalaya lebih sakti daripada Arjuna. Lebih terkejut lagi, ternyata Bambang Ekalaya juga menguasai ilmu memanah Danurwedha yang terkenal itu. Lalu bertanyalah para Korawa, siapa yang menjadi guru dari Bambang Ekalaya. Maka menjawablah Bambang Ekalaya, bahwa gurunya adalah Resi Drona. Mendengar hal itu, lalu para Korawa berbondong-bondong datang mengadu kepada Prabu Drestarata, ayah dari para Korawa. Prabu Drestarata lalu memanggil Resi Drona, dan mengingatkan dia akan janjinya, untuk tidak mengajarkan ilmu utama itu kepada Ksatria dari negara lain.

Resi Drona agak bingung dengan kenyataan ini, dan meminta waktu untuk mendapatkan jawabannya. Karena dia sama sekali tidak pernah merasa, mengangkat seorang murid dari negara lain. Akhirnya dibuntutilah Bambang Ekalaya, sampai ke tempatnya berlatih. Dia terkejut melihat patung dirinya, berdiri tegak di tengah-tengah sanggar pemujaan Sang Ksatria utama. Bambang Ekalaya tengah khusuk, berdoa dihadapan patung dirinya itu. Lalu disapalah Bambang Ekalaya oleh Resi Drona … “Yoy … anakku Bambang Ekalaya … rupanya kamu memiliki sanggar pemujaan di sini”.

Sangat terkejut Bambang Ekalaya mendengar suara yang sangat dikaguminya itu, dengan setengah tidak percaya, dia melihat Resi Drona dengan gagah dan berwibawa berdiri di hadapannya. Sambil menyembah Bambang Ekalaya berkata “Aduh, Guru yang hamba puja dan hormati, ada apakah gerangan engkau datang ke tempat hamba yang hina ini”. “Terimalah sembah sujud hamba kepadamu”.

Lalu Guru Drona bertanya, latar belakang segala yang terjadi selama ini, dan dengan penuh hormat, Bambang Ekalaya menceritakan perjalanannya meraih ilmu dengan cara belajar sendiri dan memuja patung Resi Drona untuk mendapatkan restu dari Sang Guru. Trenyuh dan terharu Resi Drona mendengar penuturan dari Bambang Ekalaya. Dia sadar, bahwa kemampuan sang murid dalam belajar sendiri sangat luar biasa. Hanya dengan rasa bhakti terhadap guru, walau tanpa diajar langsung, dia dapat menguasai ilmu Danurweda yang terkenal sangat sulit untuk dipelajari namun sangat ampuh.

Dan setelah mendengar penjelasan dari Sang Ksatria utama, maka termenunglah Resi Drona, hatinya gundah gulana melihat kenyataan yang dia hadapi. Melihat kesedihan yang terpancar dari roman muka Sang Guru, lalu Bambang Ekalaya bertanya, ada apa gerangan, sehingga menjadi berduka seperti itu. Berkatalah Sang Guru, “Bambang Ekalaya anakku, aku terharu akan usahamu dalam melaksanakan swadhyaya atau belajar sendiri”. Engkau mampu menguasi ilmu Danurweda yang sangat sulit ini, yang bahkan akupun belajar dengan guruku selama bertahun-tahun. Sedangkan ananda dapat menguasainya dalam waktu singkat dan sangat sempurna, hanya dengan rasa bhakti.

Namun ketahuilah ananda, aku sekarang berada dalam posisi sangat sulit, dan ini tidak sama sekali karena kesalahanmu. Ketahuilah, bahwa aku pernah berjanji kepada Prabu Drestarata, untuk tidak mengangkat murid selain dari keluarga Hastina. Dan akibat ulah dari pada Korawa setelah kalah perang tanding denganmu, maka aku dituduh berkhianat terhadap janji yang telah aku ucapkan sendiri. Sedangkan menepati janji adalah kewajiban utama bagi seorang Brahmana. Mungkin ini memang sudah jalanku, sehingga aku tidak bisa melanjutkan cita-citaku sejak lama untuk menjadi Brahmana Kerajaan. Tapi ketahuilah, aku sangat bangga kepadamu Bambang Ekalaya. Engkau akan menjadi contoh bagi generasi muda, yang tidak cengeng, dan mampu mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Engkau menjadi contoh bahwa belajar sendiri dengan upaya yang sungguh-sungguh, akan dapat menghasilkan kemampuan sama bahkan lebih baik, daripada siswa yang berguru secara langsung.

Maka menangislah Bambang Ekalaya … dan sambil bersujud kepada Resi Drona meminta maaf atas kelakuannya yang telah menyusahkan hati Sang Guru yang sangat dia hormati. Seraya berkata, apa yang dia dapat dilakukan untuk menebus kesalahannya. Resi Drona kembali berkata, bahwa ini bukanlah kesalahan dari Bambang Ekalaya … namun ini hanya karena takdir. Namun Bambang Ekalaya bersikukuh dengan pendirian, bahkan mau mengorbankan nyawa demi Guru yang dia cintai.

Akhirnya setelah lama berdialog, akhirnya Bambang Ekalaya berjanji untuk tidak menggunakan ilmu Danurweda tersebut, dan sebagai tandanya, dia merelakan ibu jari tangan kanannya dipotong, sehingga tidak bisa memanah lagi. Serta merta, Bambang Ekalaya memotong ibu jari tangannya … tess … darah menetes dengan deras … dan sambil tetap dengan rasa hormat, di persembahkanlah ibu jari itu kepada Resi Drona yang sangat dia hormati.

Maka terkejutlah Resi Drona terhadap pengorbanan dari Bambang Ekalaya, dengan menangis haru, Resi Drona memberikan restu dan mendoakan Bambang Ekalaya, kelak menjadi Ksatria dan Raja Utama. Dengan rasa hormat dan terima kasih, Bambang Ekalaya memeluk kaki Sang Guru, seraya mohon pamit untuk kembali ke negaranya. Lalu mereka berpisah, dan Resi Drona kembali ke Hastina dan menceritakan kepada Prabu Drestarata tentang hal yang terjadi. Akhirnya Guru Drona tetap menjadi Brahmana Kerajaan di Hastina, sedangkan Bambang Ekalaya menggantikan ayahnya menjadi Raja di negara Nisada.

Demikianlah kisah keberhasilan belajar sendiri yang sering kali harus kita lakukan serta bhakti seorang murid kepada gurunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s