Monyet, Berang-Berang, Kambing dan Kelinci


Alkisah di suatu hutan, para satwa disana selalu hidup damai bahagia. Konon kebahagiaan di Hutan tersebut disebabkan para satwa disana selalu memberi dan tolong menolong satu sama lain. Tidak ada satupun makhluk disana yang egois dimana hanya memikirkan diri sendiri. Kabar tentang para Satwa di Hutan yang Bahagia ini pun sampai ke telinga para Dewa di Kerajaan Langit.

montey

Akhirnya salah seorang Dewa memutuskan turun untuk menguji para makhluk di hutan tersebut. Maka menyamarlah sang Dewa menjadi musafir dan masuk ke dalam hutan . Disana ia bertemu dengan 4 orang satwa yaitu Monyet , Kambing, Berang Berang dan Kelinci dan memohon diberikan makanan oleh mereka. Kedatangan seorang manusia untuk pertama kalinya di hutan tersebut, membuat para satwa berbondong bondong memberi hadiah kepada sang musafir yang kelaparan.

berang-berang raksasa

Si Monyet datang memberi hadiah setandan pisang. Berang Berang datang membawa ikan. Kambing datang membawa susu. Ketika Kelinci datang, ia hanya membawa kayu bakar. “Aku tak bisa memberimu apa apa, tapi bakar saja kayu ini” , kata si Kelinci. Namun begitu api dibakar, tidak disangka sangka di Kelinci menjatuhkan dirinya ke dalam kobaran api.

KelinciTernyata si Kelinci mempersembahkan daging tubuhnya untuk sang musafir. Atas aksi pengorbanan si Kelinci ini, maka sang Dewa mengangkat si Kelinci naik ke atas bulan berdekatan dengan Kerajaan Langit tempat para Dewa Dewi. Karena itulah kita bisa melihat ada sosok siluet Kelinci saat bulan pernama.

”Moral of the Story’ dari kisah dongeng ini: Dalam hidup ini, kita harus senantiasa memberi dan menolong sebanyak mungkin orang. Supaya bahagia, seringlah memberi dan membantu orang lain. Kebahagiaan sejati didapat dari membahagiakan orang lain. Karena itu manusia yang hidupnya tidak bahagia dan sering stress, kemungkinan karena dirinya lebih memikirkan dan berfokus kepada diri sendiri. Ia memusatkan dunia pada dirinya.

GANDAMANA  


Gandamana_gam,bar besarJPG

Raden Gandamana                                  

Gandamana Sang Putera Mahkota.

Prabu Gandabayu Raja Negeara Pancala atau Cempalaradya, dan Permaisuri Gandarini diliputi kecemasan, karena Puteri sulung Sri Baginda, yang sudah menginjak dewasa belum juga ada yang melamarnya.

Prabu Gandabayu memiliki dua orang putera, yang sulung seorang puteri, bernama Dewi Gandawati, dan bungsunya, adalah seorang putera bernma Pangeran Gandamana. Seorang satria yang sakti dan mandraguna, badan kokoh, tegap dan sigap. Menghadapi musuh dapat diandalkan. Sri Baginda Gandabayu, akhirnya memerintahkan kepada para punggawa kerajaan, akan digelarnya sayembara melawan Pangeran Gandamana, untuk memperebutkan Dewi Gandawati.  Sayembara telah di umumkan  Banyak para kesatria dan para raja mengikuti sayembara, namun semua terkalahkan oleh Gandamana. Sampai pada akhirnya datang seseorang dari negeri Atas Angin, Raden Sucitra. Raden Sucitra adalah sahabat Bambang Kumbayana. Sucitra seorang biasa, bukan. seorang pangeran, dan bukan keturunan raja, Kehadiran Sucitra pun diterima oleh Gandamana. Kemudian keduanya beradu kekuatan. Sucitra dapat mengimbangi kekuatan Gndamana. Akhirnya Sucitra dapat mengalahkan Gandamana., dan bisa memenangkan sayembara itu. Gandamana sangat kecewa. Namun kekecewaannya sedikit terobati dengan munculnya Prabu Pandu Dewanata. Yang menghadiri Sayembara tersebut, dengan menyatakan bahwa Sucitra adalah Sahabat Prabu Pandu. Prabu Pandu menawarkan kedudukan sebagai patih di Astinapura. Diharapkan agar tawaran itu dapat itu pertimbangkannya baik baik.

Sementara itu Prabu Gandabayu telah menunjuk Gandamana senagai penggantinya, andaikata ia lengser keprabon.Namun Gandamana menolak, dan Gandamana akan merelakan kepada Sucitra untuk menggantikan Ramanda Prabu Gandabayu, apabila sudah lengser keprabon. Sebelum lengser keprabon, Prabu Gandabayu, mengangkat menantunya yang bernama, Sucitra menjadi Raja di Pancala, dengan gelar Prabu Drupada.Sedangkan Pangeran Gandamana mengikuti Prabu Pandu, menjadi pepatih di Astinapura. Patih Gandamana merasa di muliakan oleh Prabu Pandu.

Prabu Pandu pulang dari mengikuti Sayembara Kunti. Pandu berhsil memenangkan
Continue reading

SEKAR MIJIL


01

Ya Prabu Ciyungwanara mangsuli, boten wonten roro, ya tetelu aturku sajatine, gih punapa karsa putra aji, kawula dhuluri, sok dadiya arju.

02

Sampun nelangsa ing salasa tunggil, punika kang dados, panedha kula ing sadayane, para putra sing ngatas angin, pan rama ing uni, dhateng saenipun.

03

Kula tempuhaken lawan nalisip, bilih putra mangko, nuntenweleh geni boten moset, karanane punika kang geni, dede geni pranti, sampun kadhalangsu.

04

Heran kula ika geni, tan wonten sosolot, manther angger tan ana surude, kula dhugi wonten nyurupi, adhining asakti, kaduk mahinggurut.

Continue reading

SEKAR PANGKUR


PANGKUR

01

Dupi sang nata miyarsa, geger gumuruh kang anan Jawi, sang prabu Lutungkasarung, sigra amiyos enggal, angliga dhuhung Linggaiyang den suduk, sapisan madhuwa raga, dadi roro den pindhoni.

02

Sinuduk pan dadi papat, pining telu dadi wolu sayakti, pining pat panyudukipun, dadi bocah nembelas, pa wus dadi akeh enggal ngarubut, sang prabu ngebyuki padha, tan bias polah kawingkis.

03

Rinejeng tanpa wisesa, lininggihaken ing rante wesi, Lutungkasarung wus lungguh, ing rante tanpa sesa, aneng bale rinengku ya pinikul, dening lare kanembelas, den babayang den suraki.

04

Continue reading

MEMBELI WAKTU


Pada suatu hari, seorang Ayah pulang dari bekerja pukul  21.00 malam. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu  sangat melelahkan baginya. Sesampainya di rumah ia mendapati anaknya yang berusia 8 tahun yang duduk di kelas 2 SD sudah menunggunya di depan pintu rumah.  Sepertinya ia sudah menunggu lama.

“Kok belum tidur?” sapa sang Ayah pada anaknya.
Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja,  dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat ke kantor di pagi hari.
“Aku menunggu Papa pulang, karena aku mau tanya berapa sih gaji Papa?”, kata sang anak.
“Lho, tumben, kok nanya gaji Papa segala? Kamu mau minta  uang lagi ya?”, jawab sang ayah.
“Ah, nggak pa, aku sekedar..pengin tahu aja…” kata anaknya.
“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar Continue reading

Kyai Semar Badranaya


Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.

Sejarah Semar

Semar Wayang JawaMenurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

Asal-Usul dan Kelahiran

Semar Wayang GolekTerdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.

Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.

Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.

Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.

Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.

Silsilah dan Keluarga

Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahir sepuluh orang anak, yaitu:

    Batara Wungkuham
    Batara Surya
    Batara Candra
    Batara Tamburu
    Batara Siwah
    Batara Kuwera
    Batara Yamadipati
    Batara Kamajaya
    Batara Mahyanti
    Batari Darmanastiti

Semar sebagai penjelmaan Ismaya mengabdi untuk pertama kali kepada Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Pada suatu hari Semar diserang dua ekor harimau berwarna merah dan putih. Manumanasa memanah keduanya sehingga berubah ke wujud asli, yaitu sepasang bidadari bernama Kanistri dan Kaniraras. Berkat pertolongan Manumanasa, kedua bidadari tersebut telah terbebas dari kutukan yang mereka jalani. Kanistri kemudian menjadi istri Semar, dan biasa dipanggil dengan sebutan Kanastren. Sementara itu, Kaniraras menjadi istri Manumanasa, dan namanya diganti menjadi Retnawati, karena kakak perempuan Manumanasa juga bernama Kaniraras.

Pasangan Panakawan

Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.

Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.

Bentuk Fisik

Kaligrafi Jawa: SemarSemar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.

Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Keistimewaan Semar

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah – yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar – mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

Kepustakaan

    Slamet Muljana, 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhrathara

Diam adalah emas


Saat anda tak memiliki kata-kata yang perlu dibicarakan, diamlah. Cukup mudah untuk mengetahui kapan waktunya berbicara. Namun, mengetahui kapan anda harus diam adalah hal yang jauh berbeda. Salah satu fungsi bibir adalah untuk dikatupkan. Bagaimana anda bisa memperhatikan dan mendengarkan dengan lidah yang berkata-kata. Diamlah demi kejernihan pandangan anda.

Diam adalah emas

Diam adalah emas

Orang yang mampu diam di tengah keinginan untuk berbicara mampu menemukan kesadaran dirinya. Sekali anda membuka mulut, anda akan temui betapa banyak kalimat-kalimat meluncur tanpa disadari. Mungkin sebagian kecil kata-kata itu tidak anda kehendaki. Seringkali orang tergelincir oleh kerikil kecil, bukan batu besar. Butiran mutiara indah hanya bisa tercipta bila kerang mutiara mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekali ia membuka lebar-lebar cangkangnya, maka pasir dan kotoran laut akan segera memenuhi mulutnya.

Inilah ibarat, kekuatan anda untuk diam. Kebijakan seringkali tersimpan rapat dalam diam para bijak. Untuk itu anda perlu berusaha membukanya sekuat tenaga. Bukankah pepatah mengatakan, “diam adalah emas”

Yudhistira


Yudistira alias Dharmawangsa, adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang raja yang memerintah kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia merupakan yang tertua di antara lima Pandawa, atau para putera Pandu.

Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar “Prabu” dan memiliki julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan nama Kerajaan Amarta.

Arti Nama

Nama Yudistira dalam bahasa Continue reading

PIWULANG PAKARTI


  1. Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana. (Giat bekerja/membantu dengan tanpa pamrih, memelihara alam semesta /mengendalikan nafsu)
  2. Manungsa sadrema nglakoni, kadya wayang umpamane. (Manusia sekedar menjalani apa adanya, seumpama wayang)
  3. Ati suci marganing rahayu. (Hati yang suci menjadi jalan menuju keselamatan jiwa dan raga)
  4. Ngelmu kang nyata, karya reseping ati. (Ilmu yang sejati, membuat tenteram di hati)
  5. Ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi. (Menghayati perilaku mulia dengan budi pekerti luhur)
  6. Jer basuki mawa beya. (Setiap usaha memerlukan biaya)
  7. Ala lan becik dumunung ana awake dhewe. (Kejahatan dan kebaikan terletak di dalam diri pribadi)
  8. Sing sapa lali marang kebecikaning liyan, iku kaya kewan. (Siapa yang lupa akan amal baik orang lain, bagaikan binatang)
  9. Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana. (Ciri khas orang mulia yakni, perbuatan dan sikap batinnya halus, tutur kata yang santun, lapang dada, dan mempunyai sikap wibawa luhur budi pekertinya)
  10. Ngunduh wohing pakarti. Continue reading

3 PINTU


Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, terampil dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa bijaksana.

“Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku” Sang Pangeran meminta.

“Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir”, ujar Pertapa.

“Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu. Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu.”

Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata “UBAHLAH DUNIA”

“Ini memang yang kuinginkan” pikir sang Pangeran. “Karena Continue reading

BERSYUKURLAH


Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar.

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit. Di masa itulah kamu tumbuh.

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu. Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang.

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru. Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu.

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih. Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan.

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik. Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut.

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif. Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu.

CERITA MOTIVASI

SAYA TELAH BELAJAR


Saya telah belajar-
bahwa kita tidak bisa membuat seseorang mencintai kita. Yang dapat kita lakukan adalah menjadi seseorang yang bisa dicintai. Sisanya terserah mereka.

Saya telah belajar-
bahwa tidak peduli betapa aku peduli, beberapa orang tidak akan membalasnya kembali.

Saya telah belajar-
bahwa dibutuhkan bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan, dan hanya beberapa detik untuk menghancurkannya.

Saya telah belajar-
bahwa tidak peduli seberapa baik teman adalah, mereka akan menyakiti Anda suatu saat dan Anda harus memaafkan mereka untuk itu.

Saya telah belajar-
bukan apa yang kita miliki dalam hidup kita, tetapi siapa yang kita miliki dalam hidup kita yang penting.

Continue reading

Pengrajin Emas dan Kuningan


Di sebuah negeri, hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan.

Seorang diantaranya, adalah pengrajin emas, sedang yang lainnya pengrajin

kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan ini, sebab, ini adalah

pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang

dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai

penghias, adalah beberapa dari hasil kerajinan mereka.

Pengrajin Kuningan

Pengrajin Kuningan

Setiap akhir bulan, mereka membawa Continue reading